Pesan Pangeran Antasari : " Lamun tanah banyu kita kahada handak dilincai urang .... Jangan bacakut papadaan kita "
(Kalau tidak ingin tanah air kita diobrak - abrik orang .... Jangan bertengkar, apalagi berantam sesama kita)

"OVERSTROMING te BARABAI"

"Overstroomde straten te Barabai 1928"

Bukan hanya di masa sekarang ini saja kota Barabai sering kebanjiran. Hal seperti ini sudah berlangsung sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda bahkan mungkin sejak zaman kerajaan Banjar.

Banjir merupakan sebuah musibah yang hampir dapat dipastikan datang setiap tahun ke kota Barabai menyusul dengan datangnya musim penghujan. Hanya saja skalanya yang berbeda, ada yang besar dan ada yang kecil. Ini lantaran letak geografis kota Barabai yang berada di lereng pegunungan MERATUS yang memiliki intensitas hujan yang tinggi di saat musim hujan.
Pemerintah kolonial menyadari betul akan hal itu sehingga mereka tidak melakukan penambangan dan/atau alih fungsi hutan di daerah Onderafdeeling Barabai sebagaimana yang mereka dilakukan di tempat lain, padahal mereka sangat tahu kalau "MERATUS" (yang berada di kabupaten HST) itu memiliki kekayaan yang tak ternilai harganya.

Ironi sekali, di saat kita sudah terbebas dari belenggu penjajahan, sekelompok orang-orang kita malah bersaing bahkan berlomba untuk dapat mengeksploitasi hutan Meratus. Berbagai cara pun mereka lakukan agar ambisinya tercapai, mulai dari menyuap, memberi imbalan dan hadiah hingga melakukan intimidasi dan kekerasan.
Mereka tidak peduli akan kerusakan lingkungan, tidak peduli akan nasib saudaranya dari etnis Dayak yang kehidupan mereka bergantung pada hutan. Bahkan mereka tidak peduli akan bencana alam yang mengancam kehidupan orang banyak, yang mereka pikirkan hanyalah uang dan hidup mewah. 
نعوذ بالله من ذالك
----------------

Berikut ini adalah foto-foto "Overstroomde straten te Barabai" atau jalan tergenang banjir di kota Barabai yang terjadi pada tanggal 13 Januari 1928. Banjir ini bukan disebabkan oleh "penambangan" dan/atau "pembabatan hutan" melainkan karena faktor alam semata yakni curah hujan yang sangat tinggi.
Sulit dibayangkan apa yang akan terjadi seandainya eksploitasi hutan MERATUS dilegalkan.
Semoga pemerintah kabupaten Hulu Sungai Tengah dan masyarakatnya dapat mengambil pelajaran dari musibah ini ... amiin ... !!!

Amun banyu "baah" kakanakan nang paling basumangat ... nang tuhanya "liyut" kalapahan basisimpun

Lokasi : Aloen-aloen kota Barabai (sekarang Lapangan Dwi Warna).





Controleur (orang nomor satu) Barabai "bahayau" saat memeriksa dan memantau situasi banjir

Lokasi : Pasar Barabai mengarah ke jalan Prinsen Adriaan (sekarang Pasar Tiga depan plasa mengarah ke pasar Garuda).





Pasar tetap ramai, meskipun banjir melanda
Lokasi : jalan Karel van der Heijden (sekarang  jalan Brigjen H. Hasan Baseri depan Pasar Satu).





Bersih-bersih
Lokasi : jalan Controleur samping "Gevangenis atau penjara" (sekarang jalan Bhakti samping gedung Murakata).





Kakanakan himung wan kaungahan dikudaknya ulih Walanda
Lokasi : jalan Karel van der Heijden (sekarang  jalan Brigjen H. Hasan Baseri tepatnya antara Pasar Satu dan Lorong Said Alwi ).





Walau banjir, aktivitas di pusat perekonomian tetap berjalan
Lokasi : jalan Karel van der Heijden (sekarang  jalan Brigjen H. Hasan Baseri depan Pasar Dua).


Sumber foto : www.kitlv.nl




Tidak ada komentar:

Posting Komentar